Image of Kesenian Wayang Gantung Sebagai Media Intervensi Pengetahuan dan Sikap Pencegahan HIV/AIDS Pada Remaja di Singkawang

Text

Kesenian Wayang Gantung Sebagai Media Intervensi Pengetahuan dan Sikap Pencegahan HIV/AIDS Pada Remaja di Singkawang



BAB I
PENDAHULUAN

Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa HIV/AIDS saat ini menjadi ancaman global dan mengakibatkan dampak merugikan di semua sektor. Penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit infeksi penyebab kematian peringkat atas dengan angka kematian (mortalitas) dan angka kejadian penyakit (morbiditas) yang tinggi serta membutuhkan diagnosis serta terapi yang cukup lama1. Kawasan Asia Tenggara dan Selatan menempati urutan kedua jumlah orang yang hidup dengan HIV setelah kawasan Sub Sahara Afrika. Sekitar 4 juta atau 12% total Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) di dunia ada di Asia Tenggara dan Selatan. Jumlah infeksi baru penyakit ini mencapai 270.000 pada tahun 20102.
Jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia terus bertambah. Saat ini Indonesia adalah satu dari lima besar jumlah infeksi HIV di Asia, bersama India, Thailand, Myanmar, dan Nepal. Laju peningkatan kasus baru HIV di Indonesia yang semakin cepat terutama dalam tiga tahun terakhir, lebih dari tiga kali lipat dibanding jumlah yang pernah dilaporkan pada 15 tahun pertama epidemi HIV di Indonesia. Jumlah kumulatif sebanyak 22.726 kasus AIDS dilaporkan pada September 2010, meningkat menjadi 55.799 pada tahun 2014 sedangkan jumlah kasus HIV sebanyak 150.2853.
Provinsi Kalimantan Barat memiliki jumlah kumulatif kasus HIV dan AIDS yang tinggi. Jumlah kasus HIV di Kalbar mencapai 4.574 kasus sedangkan AIDS sebanyak 1,699 kasus dengan prevalensi mencapai 38,65. Angka prevalensi tersebut menempatkan Provinsi Kalimantan Barat di peringkat ke 5 secara nasional setelah Propinsi Papua, Papua Barat, Bali dan DKI Jakarta3. Dari 14 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, Kota Singkawang menempati posisi teratas jumlah penderita HIV AIDS sebanyak 965 kasus HIV dan 469 kasus AIDS4, dan sebaran penderita HIV paling banyak ditemukan di Kecamatan Singkawang Barat5.
Kota Singkawang atau yang lebih dikenal dengan “Kota Amoy” sangat berpotensi tinggi terhadap penyebaran HIV/AIDS bila dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Barat dikarenakan Kota Singkawang terletak di daerah yang strategis untuk jalur perdagangan serta memiliki banyak sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan di daerah pariwisata dapat dikatakan memiliki keterkaitan dengan pergerakan penyebaran penyakit HIV/ AIDS. Hal ini disebabkan oleh tempat hiburan yang memiliki pekerja seks komersil6. Data dari KPAD Singkawang menyebutkan total penderita HIV di Kotamadya Singkawang dari tahun 2002 hingga Juni 2015 adalah sebanyak 870 orang. Pelaporan kasus HIV/AIDS tahun 2015 hingga bulan Juni mendapatkan 16 orang penderita HIV/AIDS pada kelompok umur 15-24 tahun7.
Kelompok umur remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap HIV/AIDS dan narkoba, dikarenakan remaja merupakan kelompok yang mudah terpengaruh oleh arus informasi, baik negatif maupun positif. Terbatasnya akses informasi dan pelayanan kesehatan yang diterima kelompok remaja produktif mengakibatkan rendahnya pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS. Data pengetahuan dan sikap HIV/AIDS dikalangan remaja memperlihatkan tingginya persentase tingkat pengetahuan HIV/AIDS yang rendah. Pengetahuan HIV dan AIDS pada remaja dengan katagori baik diketahui sebesar 51,1 persen, sedangkan remaja dengan pengetahuan HIV dan AIDS kurang sebesar 48,9 persen. Sementara itu, persentase remaja yang mampu menjawab dengan benar pengetahuan HIV dan AIDS hanya sebesar 0,3 persen8.
Sementara dari hasil Riskesdas 2010 di Provinsi Kalimantan Barat mengenai rendahnya pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS, diperkuat dari hasil survei yang menunjukkan dimana hanya 8% penduduk usia > 15 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS9.
Jumlah penduduk Kota Singkawang sebanyak 194.902 jiwa, dengan mayoritas penduduk adalah orang Hakka/Khek sekitar 42% dan selebihnya orang Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya10. Hal ini menjadikan kebudayaan Tionghoa menjadi ikon di Kota Singkawang. Kebudayaan asli etnis Tionghoa yang berkembang salah satunya adalah kesenian wayang gantung yang merupakan bentuk kesenian populer di Singkawang. Pertunjukkan wayang gantung biasanya dipentaskan pada acara-acara perkawinan dan acara hari besar masyarakat Tionghoa.
Bagi masyarakat Singkawang, wayang gantung sudah menjadi identitas budaya. Walaupun berasal dari kebudayaan Tionghoa, wayang gantung masih bersinergi dengan budaya Indonesia. Seperti wayang di Indonesia pada umumnya, misalnya wayang kulit dan wayang golek, wayang gantung pun menjadi media penyampai pesan kepada masyarakat Singkawang pada umumnya. Sehingga setiap pertunjukkan wayang gantung, warga masyarakat dari berbagai etnis yang ada di Singkawang juga turut menikmati pertunjukkan.
Faktor kebudayaan merupakan faktor yang penting dalam penyampaian promosi kesehatan. Kebudayaan, yang didefinisikan sebagai tatanan atau pola perilaku terpadu meliputi pemikiran, kepercayaan, komunikasi, aksi, norma, nilai-nilai lembaga agama, etnis, dan status sosial adalah relevan dengan Perawatan Kesehatan setiap orang11. Pemahaman budaya ini penting untuk memastikan tidak terjadi dampak negatif dalam pelayanan terhadap komunitas sebagai akibat dari pengabaian kebudayaan.
Melihat fenomena tersebut diatas dimana faktor kebudayaan memiliki peran yang sangat penting dalam menyampaikan pesan promosi kesehatan, maka melalui buku ini penulis akan mencoba aka melakukan intervensi berupa tingkat pengetahuan dan sikap pada remaja mengenai pencegahan HIVAIDS dengan menggunakan media wayang gantung.






Kesimpulan

Berdasarkan hasil intervensi Model Pemanfaatan Kesenian Wayang Gantung Sebagai Media Intervensi Pengetahuan dan Sikap Pencegahan HIV/AIDS Pada Remaja di Singkawang Kalimantan Barat dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Karakteristik remaja yang menjadi responden adalah rata-rata berusia 17 tahun, sebagian besar adalah laki-laki, tingkat pendidikan tinggi, serta berasal dari keturunan Tionghoa dan non keturunan Tionghoa.
2) Terdapat perbedaan pengetahuan yang bermakna antara sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan dengan media wayang gantung
3) Terdapat perbedaan sikap yang bermakna antara sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan dengan media wayang gantung.
4) Terdapat peningkatan pengetahuan antara sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan dengan media wayang gantung.
5) Terdapat peningkatan sikap antara sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan dengan media wayang gantung.
6) Adanya dukungan dari pemegang kebijakan dan tokoh masyarakat terhadap pemanfaatan kesenian wayang gantung sebagai media intervensi pengetahuan dan sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS.


Availability

No copy data


Detail Information

Series Title
-
Call Number
-
Publisher IAIN Pontianak Press : pontianak.,
Collation
vi+55page 160x240mm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
ISBN : 978-623-7167-
Classification
NONE
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility

Other version/related

No other version available


File Attachment



Information


RECORD DETAIL


Back To PreviousXML DetailCite this